Posted by : Unknown Kamis, 11 Agustus 2016




EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

PENGERTIAN EVALUASI DAN EVALUASI PEMBELAJARAN
Secara bahasa Evaluasi berasal dari bahasa inggris , Evaluation yang berarti penilaian atau penafsiran.
Evaluasi adalah suatu  proses  kegiatan  yang  terencana dan  sistematis untuk menilai suatu objek berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu.
Sedangkan evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam rangka pengendalian, penjaminan dan penetapan kualitas (nilai atau arti) berbagai komponen pembelajaran berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu sebagai bentuk pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan pembelajaran.

2.        TUJUAN DAN MANFAAT EVALUASI PEMBELAJARAN
Dari berbagai penjelasan secara bahasa dan istilah di atas bahwa Evaluasi memiliki tujuan sebagai berikut :
a.          Untuk mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran
b.        Untuk melatih keberanian dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang disajikan
c.         Untuk mengetahui tingkat perubahan prilakunya
d.        Untuk mengetahui siapa di antara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar ia mampu mengejar kekurangannya. Oleh karena itu, sasaran dari evaluasi bukan saja peserta didik tetapi mencakupi pengajarnya( guru).

·         Sedangkan manfaat dilaksanakan evaluasi pembelajaran ada beberapa hal :
a.         Memperoleh pemahaman pelaksanaan dan hasil pembelajaran yang telah berlangsung/ dilaksanakan oleh guru.
b.        Membuat  keputusan  berkenaan dengan  pelaksanaan dan  hasil pembelajaran.
c.         Meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dalam rangka meningkatkan kualitas keluaran.

3.        PRINSIP-PRINSIP EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN
Dalam mendesain dan melakukan proses atau kegiatan evaluasi seorang guru hendaknya mempertimbangkan prinsip-prinsip berikut:

a.         Prinsip berkesinambungan (continuity)
Maksud Prinsip ini adalah kegiatan evaluasi dilaksanakan secara terus-menerus. Evaluasi tidak  hanya  dilakukan  sekali setahun  atau  persemester, tetapi dilakukan secara berkelanjutan mulai dari proses pembelajaran dengan memperhatikan peserta didik  hingga ia tamat dari institusi tersebut.
b.        prinsip menyeluruh (comprehensive)
Prinsip ini maksudnya adalah dalam melakukan evaluasi haruslah melihat keseluruhan  dari  aspek  berfikir (domain kognitif),aspek nilai atau sikap (domain afektif), maupun  aspek  keterampilan ( domain psikomotor) yang  ada pada masing-masing peserta didik.
c.         Prinsip objektivitas (objektivity)
Maksud dari prinsip ini adalah bahwa Objektivitas artinya mengevaluasi berdasarkan  keadaan  yang  sesungguhnya, tidak dipengaruhi oleh hal-hal lain yang bersifat emosional dan irasional.
Dalam mengevaluasi perlu adanya data dan fakta. Jika seorang guru memang sukses dalam mengajar, maka guru tersebut harus mengakuiu bahwa dia sukses, apabila belum sukses dalam mengajar, maka harus mengakui bahwa dia belum sukses dalam mengajar.
d.        Prinsip validitas (validity)
Validitas  artinya  keshahihan  yaitu  bahwa  evaluasi  yang  digunakan  benar-benar mampu  mengukur  apa  yang  hendak diukur  atau  yang  diinginkan. Validitas juga selalu  disamakan dengan  ketepatan, misalnya untuk mengukur partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran bukan dievaluasi dengan melihat nilai ketika ulangan tetapi dilihat juga mulai dari kehadiran, keaktifan dan sebagainya.

1.      Jenis-Jenis Evaluasi
·         Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif sering diartikan sebagai kegiatan evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui sejauh mana suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Dengan kata lain, evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat (Aunurrahman, 2012:221)
·         Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi (Aunurrahman, 2012:222)
·         Diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya (Aunurrahman, 2012:222)
2.      PROSEDURE EVALUASI HASIL BELAJAR
Tahapan prosedur evaluasi hasil belajar yang perlu dilalui seorang penilai meliputi:
a.      Persiapan
Seperti halnya setiap kegiatan atau tindakan kependidikan selalu diawali dengan perencanaan atau persiapan, maka kegiatan evaluasi hasil belajar juga diawali dengan persiapan. Pada tahapan persiapan ini terdapat tiga kegiatan yang harus dilakukan evaluator, yaitu:
1.      Menetapkan pertimbangan dan keputusan yang dibutuhkan
2.      Menggambarkan informasi yang dibutuhkan, dan
3.      Menetapkan informasi yang sudah tersedia.

b.      Penyusunan Instrumen Evaluasi
Prosedure yang perlu ditempuh untuk menyusun alat penilaian tes adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan bentuk tes yang akan disusun,yakni kegiatan yang dilakukan evaluator untuk memilih dan menentukan bentuk tes yang akan disusun dan digunakan sesuai dengan kebutuhan.
2.      Membuat kisi-kisi butir soal, yakni kegiatan yang dilaksanakan evaluator untuk membuat suatu tabel yang memuat tentang perincian aspek isi dan aspek perilaku beserta imbangan/proporsi yang dikehendakinya.
3.      Menulis butir soal, yakni kegiatan yang dilaksanakan evaluator setelah membuat kisi-kisi soal.
4.      Menata soal, yakni kegiatan terakhir dari penyusunan alat penilai tes yang harus dilaksanakan oleh evaluator berupa pengelompokan butir-butir soal berdasarkan bentuk soal dan sekaligus melengkapi petunjuk pengerjaannya.
c.       Pelaksanaan Pengukuran
Adapun prosedur pelaksanaan pengukuran adalah sebagai berikut:
1.      Persiapan tempat pelaksanaan pengukuran
2.      Melancarkan pengukuran
3.      Menata dan mengadministrasikan lembar soal dan lembar jawaban siswa untuk memudahkan penskoran.
d.      Pengelolaan Hasil Penilaian
Prosedur pelaksanaan pengolahan hasil penilaian adalah sebagai berikut:
1.      Menskor, yaitu kegiatan memberikan skor pada hasil penilaian yang dapat dicapai oleh responden (siswa).
2.      Mengubah skor mentah menjadi skor standar.
3.      Mengkonversikan skor standar ke dalam nilai.


e.       Penafsiran Hasil Penilaian.
f.       Pelaporan dan Penggunaan Hasil Evaluasi.
Kegunaan Evaluasi Belajar
1.      Menilai tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan.
2.      Mengukur peningkatan kemampuan dari waktu ke waktu.
3.      Me-rangking siswa berdasarkan pencapaian tujuan belajarnya.
4.      Mendiagnosa kesulitan – kesulitan belajar yang dialami siswa.
5.      Mengevaluasi efektifitas metoda mengajar yang diterapkan.
6.      Mengevaluasi efektivitas kursus.
7.      Memotivasi peserta didik untuk belajar.

Tes dalam evaluasi
Tes Formatif dan Tes Sumatif
Tes formatif adalah tes yang dilaksanakan ketika program pendidikan sedang berjalan yang bertujuan untuk mengetahui masalah dan hambatan kegiatan belajar mengajar.
Tes sumatif adalah tes akhir program (semester, kenaikan kelas, kelulusan) yang hasilnya digunakan untuk menetapkan apakah seorang siswa naik kelas atau lulus dari suatu program pendidikan.
Kriteria Tes yang Baik
1.      Valid
Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang sebenarnya di ukur atau dengan kata lain dapat dipertanggungjawabkan tingkat keasliannya.
2.      Reliable
Kata lain dari reliable adalah keajegan suatu tes, yaitu kemampuan tes dalam memberikan hasil yang konsisten meskipun telah ada pergantian penguji.
3.      Praktis
Praktis disini meliputi dana, waktu, kemampuan penguji dan pengolah.
Patokan Acuan Norma dan Patokan Acuan Kriteria
a.       Patokan Acuan Norma (PAN)
Standar penilaian yang dijadikan dasar dalam menentukan nilai akhir dan kelulusan seseorang ditentukan dengan hasil evaluasi seluruh peserta. Dengan kata lain, nilai yang diperoleh peserta adalah relative terhadap seluruh peserta yang ditetapkan secara statistic dengan distribusi normal atau tabel konversi.
Keunggulan : peserta lebih banyak yang lulus atau memperoleh nilai tinggi.
Kelemahan :  
b.      Patokan Acuan Kriteria
Adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dibandingkan dengan criteria yang sudah ada .
Keunggulan :
Kelemahan : karena nilai siswa ditentukan berdasarkan criteria yang terstandar, bukan dibandingkan terhadap teman sekelompoknya, maka bisa jadi siswa dalam satu kelompok gagal semua.
Metoda Evaluasi
1.      Tes uraian
Tes uraian adalah satu-satunya cara untuk menilai kemampuan siswa mengkomposisikan jawaban dalam suatu pernyataan atau kalimat – kalimat yang objektif. Dari segi bentuk ada dua jenis tes uraian, yaitu uraian jawaban terbuka (Extended Response) dan uraian jawaban terbatas ( Restricted Response).
Contoh soal tes uraian.
DNA tersusun atas rangkaian nukleotida (polinukleotida) ganda, yang membentuk tangga berpilin.
a.       Apakah yang menyusun satu molekul nukleotida?
b.      Buatlah bagan satu nukleotida yang menunjukkan 13a?
2.      Tes objektif
Keunggulan :
a.       Memiliki realibitas yang tinggi.
b.      Cepat dan ekonomis dalam mengoreksi.
c.       Mampu mencakup daerah bahasan yang luas, karena jumlah soal bisa relative banyak untuk waktu yang relative singkat.
Jenis tes objektif :
a.       Benar-Salah
Contoh:
B-S. Kekayaan lebih penting dari pada kepandaian
b.      Pilihan jamak/pilihan ganda
Contoh :
1. Dibawah ini adalah ciri-ciri enzim sebagai biokataliasator, kecuali ........
    a. bersifat spesifik
    b. kerjanya  dipengaruhi pH
    c. kerjanya dipengaruhi suhu
    d. pada akhir reaksi berubah sifat
    e. membantu reaksi kimia dalam tubuh
c.       Jawaban SIngkat atau Lisan
d.      Menjodohkan
1. Matriks yang terdapat didalam sitoplasma                        a. Transgenik
2. Bentuk larva kedua dari cacing redia                                b. Sitosol
3. Capit arachnida yang terdapat pada bagian mulut             c. Genotif
4. Susunan genetic yang dimiliki oleh organisme                  d. Pedipalpus
5. hewan dan tumbuhan yang gen-gennya dari                     e. Planula
    spesies lain                                                                         f. Mirasedium
3.      Tes psychomotor (skill objek test) atau tes praktek
Dalam bidang kejuruan terutama siswa tidak hanya di didik untuk menguasai kemampuan yang bersifat teori tetapi juga kemampuan praktek yang syarat muatan psikomotor. Oleh sebab itu evaluasi belajar yang diterapkan juga harus meliputi evaluasi terhadap kedua kemampuan tersebut, evaluasi teori dan evaluasi praktek.
4.      KPA dan KRA dalam tes psikomotor
Key Process Area (KPA) yaitu salah satu lebih prosedur atau langkah dalam proses dari kegitan praktek yang harus dikerjakan dengan benar atau memenuhi standar karena langkah tersebut dinilai sebagai langkah kunci.
Key Result Area (KRA) yaitu satu atau lebih hasil atau produk praktek atau tes psikomotorik yang harus benar dalam arti memenuhi criteria atau standar yang telah diterapkan atau dinilai sebagai hasil kunci.
Tingkat Kesulitan Tes
Adalah tidak adil jika guru ketika menyelenggarakan tes tidak mempertimbangkan tingkat kesulitan dengan minimal empat alasan :
a.       Taksonomi menggambarkan betapa kompleksitas pengetahuan berjenjang sesuai dengan jenjang taksonominya yang juga menggambarkan tinkat kesulitannya.
b.      Siswa memiliki berbagai keterbatasan dan latar belakang kecerdasan dan minat yang berbeda dengan temannya terhadap mata kuliah tertentu, sehingga menghadapi kesulitan yang berbeda ketika mempelajari suatu mata pelajaran.
c.       Aplikasi kemampuan dalam kehidupan tidak semua membutuhkan jenjang tertinggi, oleh sebab itu jenjang kemampuan yang rendah juga harus mendapat porsi dalam pengembangan tes.
d.      Banyak pakar ilmu pendidikan mempercayai bahwa tingkat kemampuan masing-masing individu dalam kelompok tidak sama dan secara umum memiliki kecenderungan mengikuti prinsip distribusi normal.
Kisi-kisi Sosial
Kisi – kisi soal adalah peta yang menggambarkan komposisi soal yang akan dijadikan sebagai pedoman bagi pembuatan soal. Oleh sebab itu, kisi-kisi harus dibuat sebelum soal disusun. Komposisi soal ditentukan berdasarkan berbagai aspek atau variabel yang menurut hemat pembuat soal perlu dipertimbangkan.
Langkah langkah melengkapi kisi kisi soal
a.       Tuliskan semua pokok bahasan yang diajarkan selama semester berjalan.
b.      Tuliskan alokasi waktu pembelajaran untuk setiap pokok bahasan.
c.       Tetapkan perbandingan jumlah skor untuk masing – masing jenis soal.
d.      Tenyukan jumlah skor maksimum ideal untuk setiap bentuk soal berdasarkan presentasinya.

Menentukan Nilai atau Memonten
Perlu dipahami bahwa skor bukanlah nilai tes. Oleh sebab itu diperlukan perubahan skor menjadi nilai atau ponten.
Macam – macam nilai yang digunakan di perguruan tinggi di Indonesia ada tiga macam. Pertama, adalah nilai yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan mana prestasi siswa dikategorikan ke dalam 5 kategori yang diberi label A,B,C,D,E. Kedua, nilai rentang 0-100 yang digunakan dalam perhitungan nilai mentah sebelum dikonversi ke dalam nilai huruf. Ketiga, nilai dikonversi kedalam nilai huruf dan kemudian ke nilai angka dengan skala 0-4.


Menentukan Nilai Akhir Mata Pelajaran
Banyak pakar sepakat bahwa Nilai Akhir mata pelajaran atau Nilai Akhir mata kuliah bukan hanya ditentukan berdasarkan hasil Tes Akhir saja, tetapi juga merupakan gabungan dari berbagai tes dan juga nilai harian termasuk kehadiran trtugas yang diberikan kepada siswa atau mahasiswa. Dengan lain perkataan nilai tersebut mempertimbangkan nilai proses selama siswa atau mahasiswa mengikuti pembelajaran.


 Sumber:
Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: ALFABETA.
Dimyati, dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rin
eka Cipta.
Arikuntoro, Suharsimi. 1990. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara
Joesmani. 1988. Pengukuran dan Evaluasi dalam pengajaran. Jakarta: Depdikbud.
Sudjana, Nana, 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Gintings, Abdorrakhman, Prof. M.Ed. M.Si. Ph.D. Esensi Praktis; BelajarPembelajaran. Disiapkan untuk Pendidikan Profesi dan Sertifikasi Guru-Dosen,--Cet. 4; Bandung. HUMANIORA.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Disqus Shortname

Comments system

- Copyright © Iska Mawarsita - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -